Jangan Terlalu Sering Memarahi Anak, Ini Yang Akan Terjadi Pada Otak Anak Yang Sering Dimarahi


Semua Orang Tua Pasti Pernah memarahi anak ! Tapi Kalau Anda Terlalu Sering, Anda harus menghentikannya dari sekarang. Pasalnya mengajari kebaikan pada anak tidaklah harus menggunakan nada suara tinggi dan amarah.

Demikian dikatakan Pegiat Perlindungan Anak sekaligus Pendiri Yayasan SEJiWA, Diena Haryana baru-baru ini di Jakarta pada NNC.Dijelaskan Diena, mendidik kebiasaan anak akan membuat pola guratan pada otak Anak.

Pola guratan di otak akan terbentuk apabila kebiasaan-kebiasaan telah tertanam dalam benak anak.

“Misalkan ajarkan anak letakkan handuk setelah mandi. Hari pertama diterapkan baik, hari kedua anak lupa, ya ingatkan lagi. Kalau anak lupa lagi, terus ingatkan hingga jadi kebiasaan baik pada anak. Nanti itu akan timbulkan guratan pada otak, sehingga miliki kebiasaan baik,” kata Diena.

Lebih lanjut Diena katakan, apabila orang tua mengajarkan anak dengan amarah maka akan ada perkembangan lain yang terjadi. Amarah ini hanya akan membuat anak selalu merasa takut dan tidak bisa fokus berpikir.

“Kalau orang tua marah, guratan di otak anak isinya hanya “mama marah”. Jadi bukan kebiasaan baik yang tertanam, tetapi malah ketakutan,” kata Diena.

Psikolog Laelatus Shifa mengatakan, teriakan yang diterima oleh seorang anak dapat terekam dalam otaknya.

"Tapi memang kekerasan ataupun kenangan masa lalu yang negatif maupun positif akan terekam jelas oleh anak kita," kata Laelatus saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (19/10/2019).

Lebih jauh, teriakan itu bisa menyebabkan trauma pada diri si anak.

"Terkadang perlakuan kasar yang verbal yang diterima anak terus-menerus bisa menjadi trauma masa lalu dan memiliki akibat serius untuk kehidupan anak ke depannya," ujar Latus.

Dampak buruk juga akan didapatkan si anak selama masa pertumbuhannya.

"Karena kata-kata yang keluar itu bisa memengaruhi keyakinan anak tersebut tentang dirinya, harga diri anak tersebut," jelas dia.

Dikutip dari Healthline, suara yang tinggi akan membuat pesan yang disampaikan sulit diterima oleh seseorang, termasuk anak-anak.

Semakin tinggi nada suara yang disampaikan, akan menurunkan daya penerimaan si anak terhadap pesan yang ada.

Berdasarkan penelitian, didikan orangtua terhadap anak yang menggunakan kekerasan dapat membuat anak semakin agresif baik secara fisik maupun verbal.


Terlepas dari apa pun, teriakan yang merupakan ekspresi dari kemarahan, ini membuat anak-anak merasa takut.


Apalagi jika teriakan itu disertai dengan kata-kata yang sifatnya menghina dapat menimbulkan efek jangka panjang seperti kecemasan, tingkat percaya diri yang rendah, dan peningkatan agresifitas.

Sebaliknya, menyampaikan dengan cara yang tenang dapat membuat anak merasa dicintai dan diterima atas segala sikap buruk yang dimilikinya.

Seorang psikiater di Harvard Medical School, Joseph Shrand, Ph.D, mengatakan, seorang anak akan semakin tidak mendengarkan apabila diberi tahu dengan cara berteriak.

Suara yang tinggi ini dapat mengaktifkan sistem limbik dalam otak mereka.

Sistem ini berfungsi mengatur respons otak terhadap stimulus yang diterima.

Dilansir dari Web MD, respons itu bisa berupa perlawanan, atau menjauh dan lari dari sumber yang memberikan stimulus.

Belum ada Komentar untuk "Jangan Terlalu Sering Memarahi Anak, Ini Yang Akan Terjadi Pada Otak Anak Yang Sering Dimarahi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel